
Syekh Jumadigeno dan Syekh Wasibageno diperintah oleh ayahnya yaitu Syekh Khaki untuk berguru kepada Eyangnya Pangeran Blancak Ngilo (Kyai Ageng Turgo) di Gunung Turgo. Syekh Jumadigeno dan Syekh Wasibageno berangkat kea rah utara sesuai dengan petunjuk Syekh Meloyo agar berjalan menelusuri sungai.
Pada suatu saat Syekh Jumadigeno dan Syekh Wasibageno dihentikan oleh para penyamun karena mereka sangat sakti maka penyamun itu akhirnya menjadi pengikutnya. Perjalanan mereka terhenti dan istirahat dibawah pohon beringin karena sudah penat berjalan. Perjalanan diteruskan keutara dengan menelusuri sungai dan tebing. Syekh Jumadigeno dan Syekh Wasibageno setelah menempuh perjalanan jauh akhirnya mereka bertemu dengan Eyangnya. Di Gunung Turgomereka diberi ilmu kanuragan, ilmu agama, dan nasehat-nasehat suci. Mereka disuruh untuk mengembara kehutan Malelo. Di hutan Malelo Syekh Jumadigeno bersemedi, dalam semedinya mendapat wangsit agar membabat hutan itu dengan menggunakan Bandil pemberian Gurunya. Setelah sholat subuh Syekh Jumadigeno memutar-mutar Bandil diatas kepalanya sambil membaca doa serta mantra pemberian Eyangnya. Semua kehendak Tuhan pasti terjadi, pohon-pohon pada tumbang hanya pohon kedaung yang masih tegak berdiri dengan bunga-bunga yang indah dan asri.
Tempat ini akhirnya diberi nama dusun Wonolelo. Disini Syekh Jumadigeno mendirikan rumah Trajumas, rumah ini lain dari pada yang lain, karena sokoguru tidak ada yang dipasah atau dipahat cumin dipeceli menggunakan kapak, andernya Cuma satu, penyangganya enam, dan berbentuk limas. Rumah ini dipercaya sebagai rumah tiban karena sepengetahuan penduduk rumah itu tiba-tiba ada tanpa ada yang tahu siapa dan kapan membuatnya. Disamping mendirikan rumah, Syekh Jumadigeno mendirikan Masjid untuk sholat berjamaah para pengikutnya atau santrinya. Semakin banyak orang-orang yang berguru ngaji kepada beliau, bahkan dari tempat-tempat yang jauh, sehingga mereka harus mondok ditempat itu, karena banyak yang mondok, maka Syekh Jumadigeno mendirikan Pondok Pesantren. Ditempat itu dulunya hutan Malelo dalam bahasa Jawa disebut Wono, maka Syekh Jumadigeno member nama Pondok Wono Malelo, yang lama kelamaan menjadi Pondok Wonolelo. Syekh Jumadigeno oleh murid-muridnya dipanggil Ki Ageng yaitu orang yang dianggap besar jasanya dan memimpin serta membimbing masyarakat, karena beliau memimpin serta menjadi guru ngaji atau Kyai di Pondok Wonolelo, akhrinya beliau mendapat sebutan serta gelar Ki Ageng Wonolelo. Karena jasa-jasanya mak, Ki Ageng Wonolelo dipercayai oleh warga setempat sebagai Cikal Bakal adanya dusun Pondok Wonolelo.
Pengirim: Muhammad Raffi Attaya / VB